hasil presentasi kelompok 6 presentasi AKUNTANSI 1
ANALISA DAN LAPORAN KEUANGAN
Pengertian (secara umum)
·
Persediaan (Inventory), aktiva perusahaan yang menempati posisi
yang cukup penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun
perusahaan industri (manufaktur), dan perusahaan yang bergerak dibidang
konstruksi, hampir 50% dana perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu
untuk membeli bahan-bahan bangunan.
·
Persediaan adalah aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk
dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau
dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual.
maka perusahaan jasa tidak
memiliki persediaan, perusahaan dagang hanya memiliki persediaan barang dagang
sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis persediaan yaitu persediaan bahan
baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang jadi (siap untuk
dijual).
Dalam laporan keuangan,
persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan Rugi/Laba
maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan.
Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam
laporan Rugi/Laba maupun neraca. Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan
(awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga Pokok Penjualan (HPP)
A.Inventory perusahaan dagang
Persediaan merupakan
barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual kembali
tanpa mengubah bentuk dan kualitas barang.
B.Inventory perusahaan industry
Persediaan barang-barang atau
bahan yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut
menjadi barang jadi atau setengah jadi atau mungkin menjadi bahan baku bagi
perusahaan lain
perusahaan manufaktur pada
umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
1.
Bahan baku (direct material)
2.
Barang dalam proses ( Work in proses)
3.
Barang jadi (Finished goods)
Jenis-jenis Persediaan
1.
Bahan Baku
Barang persediaan akan diolah
lagi melalui proses produksi, sehingga akan menjadi barang setengah jadi atau
barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya persediaan bahan baku
dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat diandalkannya
pihak pemasok.
1.
Barang dalam Proses
Barang yang masih memerlukan
proses produksi untuk menjadi barang jadi, sehingga persediaan barang dalam
proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang dibutuhkan
sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian
barang jadi.
1.
Barang Jadi
Barang hasil proses produksi
dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada persediaan ini besar
kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi
produksi dan penjualan.
Tujuan Penilaian Inventory
·
Tujuan Pertama adalah dalam upayanya untuk mematch cost terhadap
revenue yang berkaitan, sehingga dihasilkan income, proses ini merupakan tujuan
dasar akuntansi tradisional.
·
Tujuan kedua pengukuran inventory lainnya adalah untuk
menyajikan nilai barang-barang perusahaan didalam komponen neraca (laporan
keuangan).
·
Tujuan ketiga pengukuran inventory adalah membantu investor
untuk memprediksi arus kas dikemudian hari, yaitu dipandang dari jumlah
inventory sebagai resources yang akan mendukung arus kas dan jumlah inventory
yang akan dijual kemudian hari dan akan mempengaruhi arus kas keluar.
Penentuan kuantitas persediaan
Untuk menentukan jumlah barang yang masih dikuasai oleh perusahaan pada suatu
saat dapat ditentukan melalui beberapa cara yaitu:
1.
Stock opname: perhitungan barang pada awal dan akhir periode
yang dihitung, cara ini merupakan ketentuan yang harus dilakukan oleh manajemen
untuk menentukan jumlah persediaan akhir, sebagai salah satu persyaratan
memperoleh unqualified opinion.
2.
Menggunakan metode pencatatan perpetual.
3.
Menggunakan metode gabungan antara metode pencatatan perpetual
dengan stock opname.
4.
Menggunakan metode penilaian berdasarkan hubungan agregatif,
yaitu gross profit method dan realized inventory method.
Penyajian laporan laba rugi dapat
dibuat dalam dua bentuk, yaitu all inclusive concept of income (AICI) dan
current operating concept of income (COCI). Dari kedua metode tersebut metode
penyajian yang banyak mengandung kelemahan untuk penyajian persediaan adalah
AICI, kelemahan-kelemahan tersebut dapat kita lihat sbb:
1.
Metode stock opname atau periodic method
2.
Metode perpetual
3.
Metode agregatif
Dasar Penilaian Persediaan
Penilaian persediaan pada
prinsipnya ada dua yaitu input values dan output values, sedangkan kedua konsep
tersebut dapat digunakan sesuai dengan siapa pemakainya dan tujuannya. Kalau
untuk pembuatan prediksi arus kas dikemudian hari lebih relevan kalau digunakan
output values, karena akan mencerminkan nilai perusahaan pada saat itu.
1.
Output Values
Untuk konsep output values ini
ada 3 (tiga) konsep yang dapat digunakan yaitu:
- Konsep Discounted Money Receipt
- Current Selling Price
- Net Realizable Values
1.
Input Values
Pengukuran persediaan dengan
input values merupakan pengukuran resources yang dipakai untuk memperoleh
persediaan pada kondisi saat ini, sehingga untuk persediaan yang tidak perlu
adanya proses produksi interpretasi mengenai nilai persediaan (input values)
sangat jelas. Karena input values disini menggambarkan arus dari pada kas yang
telah dikeluarkan sesungguhnya.
Konsep Persediaan
1.
Historical cost
Metode historical cost ini
persediaan diukur berdasarkan pada pembayaran yang dilakukan dimasa lalu atau
harus dilakukan dimasa yang akan datang untuk memperoleh barang atau jasa.
Keuntungan konsep ini:
1.
Inventory bahan baku dan barang dagangan mencerminkan harga yang
sebenarnya.
2.
Dalam kondisi harga tidak pasti konsep ini merupakan alternative
yang layak daripada net realizable values sebagai alat prediksi.
3.
Nilai persediaan tidak dipengaruhi oleh bias kebijakan
manajemen.
Kerugian konsep ini:
1.
Untuk persediaan barang yang cepat usang dan nilai tambah atas
barang tidak dapat disesuaikan harganya.
2.
Bila terdapat harga yang berbeda susah untuk diperbandingkan.
3.
Banyaknya unsur joint cost dan metode alokasi sehingga
menyulitkan penilaian persediaan.
4.
Current Replacement Cost
Konsep ini adalah untuk
mengurangi kelemahan dari konsep historical cost, banyak penulis dan komite
prinsip akuntansi menyarankan menggunakan konsep CRC untuk mengukur persediaan.
Dengan pertimbangan:
1.
CRC memungkinkan untuk matching antara current input value
dengan current revenue atas hasil current operation.
2.
CRC memungkinkan identifikasi dari holding gains dan loss.
3.
CRC merupakan current value dari persediaan.
1.
Net Realizable Values Dikurangi
Normal Markup
Dalam konsep ini persediaan
dinilai dengan konsep realizable values dikurangi dengan gross profit margin
yang normal, sehingga nilai persediaan merupakan nilai perolehannya menurut
konsep realizable.
Biaya-Biaya yang Harus Dimasukkan
dalam Persediaan
Salah satu masalah paling penting
dalam menangani persediaan berhubungan dengan berapa jumlah persediaan yang
harus yang dicatat dalam akun. Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti aktiva
lain, umumnya di perhitungkan atas dasar biaya.
1.
Biaya Produk
Biaya yang melekat pada
persediaan dan di catat dalam akun persediaan. Biaya-biaya ini berhubungan
langsung dengan transfer barang kelokasi bisnis pembeli dan pengubahan barang
tersebut ke kondisi yang siap di jual.
1.
Biaya periode
Kondisi yang beban umum serta
adminstrasi tidak dianggap berhubungan langsung dengan akuisisi atau produk si
barang karenanya tidak dianggap sebagai bagian dari persediaan.
1.
Biaya manufaktur
Sebuah bisnis yang membuat barang
mengunakan persediaan bahan baku barang dalam proses barang jadi. Brang dalam
proses dan barang jadi meliputi bahan tenaga kerja langsung dan biaya overhead
manufaktur. Biaya overhead manufaktur meliputi bahan tidak langsung.
1.
Biaya bunga
Berhubungan dengan
penyiapanpersediaan agar siap dijual biasanya di bebankan pada saat
dikeluarkan. Arguman penting untuk pendekatan ini adalah bahwa biaya bunga
merupakan biaya pembiayaan.
Sistem Pencatatan Persediaan
Untuk dapat menetapkan nilai
persediaan pada akhir periode dan menetapkan biaya persediaan selama satu
periode, sistem persediaan yang digunakan adalah:
Sistem Periodik (physical)
Pada setiap akhir periode
dilakukan perhitungan secara phisik untuk menentukan jumlah persediaan akhir.
Perhitungan tersebut meliputi pengukuran dan penimbangan barangbarang yang ada
pada akhir suatu periode untuk kemudian dikalikan dengan suatu tingkat
harga/biaya. Perusahaan yang menerapkan sistem periodik umumnya memiliki
karakteristik persediaan yang beraneka ragam namun nilainya relatif kecil.
Misalnya kios majalah di sebuah pusat perkantoran dan pertokoan yang menjual
berbagai jenis majalah, koran, dll.
Sistem Permanen (Perpetual)
Melakukan pembukuan atas
persediaan secara terus menerus yaitu dengan membukukan setiap transaksi
persediaan baik pembelian maupun penjualan. Sistem perpetual ini seringkali
digunakan dalam hal persediaan memiliki nilai yang tinggi untuk mengetahui
posisi persediaan pada suatu waktu sehingga perusahaan dapat mengatur pemesanan
kembali persediaan pada saat mencapai jumlah tertentu. Misalnya persediaan alat
rumah tangga elektronik (mesin cuci).
Penilaian Persediaan dengan
Sistem Fisik (Periodik)
Untuk menentukan nilai persediaan
barang pada akhir periode menurut system pisik adalah sebagai berikut:
1.
Metode Tanda Pengenal Khusus
Metode tanda pengenal khusus
( specific identification ) setiap barang
yang dibeli atau yang masuk diberi kode / tanda pengenal yang menunjukkan harga
per satuan sesuai faktur yang diterima.
2.
Metode RataRata
- Metode RataRata Sederhana
- Metode Rata-Rata Tertimbang
3.
Metode MPKP (FIFO)
Barang yang lebih dulu masuk
diaggap lebih dulu keluar atau dijual sehingga nilai persediaan akhir terdiri
atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk belakangan.
4.
Metode MTKP (LIFO)
Metode ini, barang yang terakhir
masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual sehingga nilai persediaan akhir
terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk lebih awal.
5.
Metode Persediaan Dasar
Disebut juga sebagai persediaan
besi yakni persediaan minimum yang harus dimiliki oleh perusahaan untuk menjaga
likuiditas perusahaannya. Dalam metode Ini keterlambatan masuknya barang yang
disebabkan adanya kemacetan atau sebabsebab lain tidak mengganggu persediaan
sehingga perusahaan masih dapat melayani pelanggan atau pembeli.